Kebahagiaan
September 12, 2008
Hari-hari ini kebahagiaan tengah mengambang di sekeliling saya. Lingkungan baru,orang-orang baru, pekerjaan yang sebelumnya ga pernah kepikiran sama sekali tapi menyenangkan buat saya..Keluarga yang selalu mendukung..Sahabat tercinta menyongsong masa depan yang lebih cerah (insya Allah)..Ada yang menikah..Ada juga yang menemukan cintanya (semoga)..Ada yang tengah menikmati peran barunya sebagai seorang ibu..
Sepertinya semua orang sedang melangkah maju..menuju kebahagiaan..Momen-momen penuh pergerakan yang menggairahkan..keceriaan..senyuman..Meski masih ada yg kecewa..bingung..mumet..cape..Tapi semua masih mengalir..Dunia masih berputar.. Saya berpikir betapa Ramadhan kali ini sangat membahagiakan..
Sampai pada suatu ketika, nama seorang sahabat muncul di layar ponsel. Sayang, waktu itu saya tengah mengaji, jadi saya tutup telfonnya dan saya kirim sms kalau saya akan menghubunginya nanti. Hari beranjak malam, badan terlanjur merasa letih, maka saya urungkan niat menelfon sahabat saya malam itu, lalu saya tertidur.
Jam 3 pagi, terdengar bunyi sms masuk berkali-kali. Terbangunlah saya, dalam hati bertanya-tanya siapa yg begitu rajin sms banyak-banyak utk membuat saya bangun sahur. Tapi isinya jauh dari yang saya bayangkan. Sms pertama yg saya baca adalah sms urutan terakhir, dan isinya mengatakan bahwa sahabat saya yg siang itu menelfon, akan mengakhiri hidupnya. BLAAARRR!!! Petir serasa datang menyambar. Antara kaget, bingung, pusing karena masih mengantuk, dengan berpikir kalau ini cuma bercanda. Teringat telfon yang saya tutup siang itu, teringat cerita-cerita yang pernah ia ungkapkan pada saya beberapa waktu lalu.. Astagfirullah…ga mungkin dia sampe ngambil keputusan itu! Panik, saya telfon dia..Ga diangkat.Teruuss…saya coba, tetap ga diangkat..Lebih panik karena membayangkan dia mulai berbuat sesuatu untuk menghabisi dirinya, muncul rasa bersalah karena mungkin waktu siang dia telfon dia benar-benar butuh berbicara untuk meredakan tekanan batinnya, tapi saya ga bisa, sehingga dia merasa ga ada yg peduli dengannya lagi dan memutuskan untuk berhenti sampai di sini”, saya telfon sahabat yang lain, membuat dia kaget bukan kepalang. Alhamdulillah, waktu sahabat saya ini telfon, diangkat..tapi dia ga mau bicara..dia cuma bilang “saya gpp, besok saya telfon”..Syukurlah..setidaknya dia masih punya akal untuk tidak melaksanakan niat gilanya itu..Alhamdulillah..alhamdulillah…
Keesokan paginya,dia bicara pada saya.”Udah ga ada lagi kebahagiaan untuk saya..”, katanya sambil terisak-isak. Hal yang paling menyedihkan dari persahabatan adalah melihat sahabat kita kesakitan tapi kita ga bisa berbuat apa-apa, dan itulah yang saya rasakan waktu mendengar dia bercerita,
“Saya udah ga kuat ngadepin hidup ini..Saya marah sama Allah..Saya kecewa..Saya udah ga mau idup lagi..Kenapa Allah kasih saya kebahagiaan itu kalau akhirnya malah membuat saya jatuh? Sakit apalagi yang akan Allah berikan? Mungkin memang tidak pernah ada kata bahagia dalam hidupku. Hampa saya udah ga berharap hidup lagi.Apa bedanya dengan mati toh jiwa raga udah mati rasa seperti mayat hidup.Saya ga mau berharap lagi karena itu menyakitkan. Satu keinginginan saya untuk tinggalin dunia ini secepatnya. I’m trying to kill myself. Bagi saya semua udah berakhir…”
Betapapun saya berusaha meyakinkan sahabat saya, bahwa kebahagiaan itu masih ada..bahwa Allah Maha Penyayang..Bahwa musibah mungkin diberikan untuk “membereskan masalah”, “menghabiskan semua rasa sakit”, hingga pada akhirnya kita kembali seperti semula, dan mampu meraih kebahagiaan yang sesungguhnya, yg Allah ridhai.. Betapapun saya berusaha berulang-ulang mengatakan padanya untuk tetap sabar, bertahan, kuatkan diri…kata-kata saya seperti membalik, mantul, terpental..
dia: “Saya harus bersabar kaya gimana lagi??!!”
saya: “Sabar..sabar..kamu harus kuat..ingat masih ada keluarga yang sayang sama kamu, yang masih butuh kamu..”
dia: “selama ini saya udah bertanggung jawab atas mereka, ga pernah mikirin saya bahagia atau ngga. Sekarang saya ingin bahagia, apa itu salah??”
saya: “kebahagiaan bukan itu aja, bahkan mengurus keluargamu juga kebahagiaan, bukan?”
dia: “dulu iya..sekarang ngga, rasanya hampa..seperti mayat hidup..cuma sebatas rutinitas..saya udah ga kuat lagi..Saya lebih baik mati”
saya: “emangnya kalau mati masalahnya slesai? ga akan! kamu udah siap mati?? udah siap?”
dia: “…setidaknya saya ga akan ngerasa sakit kaya gini..”
saya: “siapa bilang? emang tau dari mana kamu ga akan ngerasain sakit lagi?”
dia: “tapi saya udah ga tahan..” (menangis)
Alhamdulillah..meskipun ia tidak mau mengalah, bunuh diri ga jadi dilakukan..
Yang tertinggal adalah perasaan bersalah…karena mungkin selama ini saya tidak menjadi sahabat yang selalu ada untuknya, yang bisa mengingatkan, yang bisa menguatkan, berusaha meringankan hatinya..tdk berdaya, karena saya cuma bisa bicara, tanpa tahu persis rasa sakit yang dia alami..Apakah sama dengan rasa sakit yang pernah saya alami, saya ga tau..dan alhamdulillah saya sudah melupakan kesakitan2 itu, jadi cukup sulit utk memanggil memorinya kembali..ga ada pengulangan untuk itu, cukup sekali saja..yang saya tau, butuh waktu cukup lama untuk melupakan..butuh waktu cukup lama untuk menghabiskan rasa sakit itu…cukup lama..
Istighfar..Istighfar..Istighfar..karena mungkin selama ini saya terlena dengan kesibukan, dengan diri sendiri, dengan lingkungan yang lain, hingga terlupa kalau saya masih punya saudara di ujung sana yang membutuhkan pertolongan..
Istighfar..Istighfar..Istighfar..karena saya merasa bahagia sementara orang lain merasa kesakitan..bahwa kebahagiaan bisa menjadi kata yang mahal bagi orang lain..
Sekarang..saya cuma bisa banyak2 minta ampun,mendoakan, dan bersyukur..betapa kita benar2 tergantung kepada-Nya atas segala sesuatu (“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”, Q.S.Ar-Rahman). Bahkan kebahagiaan pun tak kan bisa kita raih tanpa ridha-Nya…Betapa jalan yang sudah saya lalui bisa membawa saya sampai di sini, bisa menuliskan ini, menyatakan betapa bersyukurnya saya bisa sekolah, kenal banyak orang, cita-cita yang tidak terkabul, harapan yang tidak terpenuhi, segala batu sandungan, tamparan, kebodohan-kebodohan, segala ketidaksempurnaan yang saya miliki dan saya alami, ternyata membawa saya bisa sedikit memahami orang lain, sedikit mengerti arah langkah yang seharusnya, menumbuhkan sedikit demi sedikit kesadaran bahwa kita adalah manusia yang membutuhkan Allah..
Ketika melihat sahabat-sahabat, rasanya begitu ajaib bahwa dulu mungkin saya tidak pernah membayangkan akan mengenali mereka, belajar dari mereka, merasakan kebahagiaan dengan memiliki mereka..Memahami bahwa seiring dengan berjalannya waktu, hidup dengan jalannya masing-masing, akan membuat kita terpisah dengan sahabat-sahabat kita..Ga ada yang abadi di dunia ini..suatu saat segalanya akan berakhir..yang tersisa adalah jejak dalam doa, semoga kita semua bertemu kembali di surga…amin…
